http://bloggerciputat.com

August 15th, 2009 by ahmadmakki

http://ahmadmakki.web.id

August 15th, 2009 by ahmadmakki

Kumpulan Puisi

February 7th, 2008 by ahmadmakki

Lelah juga terus-menerus diskursus, ada baiknya aku kembali ke profesi asli:

Ciput-art

Pada malam aku merapal
di pucuknya yang biru-beku
di embun-embunnya yang bersuara 

langit kelu
hati bisu
gelisah geram mencengkram

menanti saat-saat tuhan
bersendawa 

ada ketawa merebak gembira
walau gugus karang menyela

untuk malam
untuk mimpi
untuk takdir yang mengelak diminta jinak

ssst…

ada perempuan paruh-baya naik becak,
terkantuk-kantuk pada pukul
tiga

Ciputat,
Oktober 2003

Birthday
(buat Nina)

Malam kaku dan beku
antar dingin yang nadanya
ngilu 

ini malam yang tak biasa bukan? 

angin boleh sepi
dan bulan biar sunyi tak bernyanyi
hanya gumam lirih dari sini 

ada yang berdoa sambil menghela nafas
kala jam menunjuk tepat

angka dua belas

Ciputat,
10 Oktober 2003

Jl. Sedap Malam 


Hari yang singkat bermula
saat mentari telah tinggi

kita ceritakan Bharata dengan belek
masih di sudut mata
atau heroisme Abimanyu yang kau hargai
sehangat kopi pagi.

(saya lupa menutup keran)

ada silsilah yang dirunut dengan cerita

saya terbayang ketika dunia
penuh dengan kata-kata siaga
atau sepotong kalimat yang dibayar
dengan nyawa

untung kita lupa pada de la Serna -kau
ingat jasadnya yang kusut dan tengadah?-

atau kamar mandi tak akan terusik.

                                   Ciputat, 19 Februari 2005

Hujan dan sepotong roti di warung kopi 

Malam adalah beberapa waktu di warung kopi, adalah
jerit radio yang serak melawan tetes hujan yang terserak

atau ia lupa meletakkan gelombang
dengan tepat?

sejenak ingat korban mutilasi
di televisi. Seperti kisah si Pitung –entah
bagian mana terkubur di Marunda? 

lalu saya gugup menyuap potongan roti 

gugur hujan ini seperti upacara
tahlil tahun lalu; paduan suara
untuk cerita yang menghabisi nyawa kita 

semoga masih ada isak yang tersisa

di sini,
malam adalah jerit radio yang serak
entah gelombang suara yang
tak akurat, atau rintik hujan yang terserak.

     Ciputat, 20 Februari 2005

 

Amnesia… dan Corrine

Saya sadar tentang ingatan
yang telah menguning dan ujungnya
terlipat. Tak ada album foto yang
membuat tetap necis dan merekat 

ketika lupa demikian rakus,
cukup tinta menulis tentang
kota
ini
–ya, Ciputat. Karena
tak ada rindu pada purnama
yang di bayangnya kita main petak umpet

atau ketika ingatan demikian
renta, hanya Corrine meminta
puisi saya.

   Ciputat,
25 Februari 2005.

Nyanyi angin –kau dengar itu?-
(Fiet)

Angin yang menggelayut pada
dinding –kau dengar itu?- menyanyikan
koor muram, dengan

guntur

yang jadi metronom.

seperti menyambut tetes-tetes
hujan yang menulis aksara
pada kaca jendela 

kau tahu,
akan selalu ada amarah
pada kisah yang mendadak retak
seperti kali ini.

dan tetes hujan turun
berebut menulis aksara
pada jendela. 

pada detik-detik ini,
tidakkah setiap orang akan
jadi penyair?

        Ciputat,
06 Maret 2005

 

Kangen
(Yanti) 

Bunyi denting -entah dari mana-
mengagetkan lamunan angin,
kembali melambai. Kali ini ia menggurat
kelabu pada langit. 

bersama bersin, namamu tercetak
pelan dan menggigil, dari celah jendela
yang termangu. 

dan detik pun tak lagi kedengaran.

  Ciputat, 22 April 2005

 

Tinggal sepi 

hujan telah lewat
dingin kian merapat
dan bayang beristirahat 

tak ada kata yang siap
dijadikan pelana
 
pada waktu yang beku,
angin telah menghempas kalor
dari tubuh yang menggigil 

tinggal bulan muram sendiri

  Ciputat, 22 April 2005.

Puisi jam 3 pagi 

“Cinta itu warnanya merah.”
Ucapmu.
“Lihatlah tanda yang ia
tinggalkan
di dada kita.” 

   Ciputat,
16 November 2005

11 Februari
(De)

Tahukah kau di sana 
dingin memanggil dengan suara
yang bergetar, menunggu kita
mendatangi pondok itu dan meletakkan
tangan kita di jendela. Memandang danau
yang birunya memancar, di bawah rindang cemara.

aku ingin meletakkan cincin
di jarimu. Aku ingin
memakaikan
kerudung putih ketika kau tertunduk.

   

Medan,
11 Februari 2006

Setelah revolusi tak ada lagi*(1)
(buat Ade
F.)

I
Bang,
ada baiknya kau pulang menjemput rindu
emak
seperti kau hampiri derita panjang rakyat
dengan cita-cita revolusi.

orang-orang kini memandang asing padamu,
sebab tangismu adalah getir panjang

dari zaman yang sayup, ketika tuan-tuan modal
masih memandang dengan cemburu. Dan (ssst…)
mereka hanya punya ingatan pendek
sejenis amnesia.

sesaat jerit revolusimu menggema bersama
kibar-kibar bendera merah, sampai
deru mobil dan teriakan kondektur tak sengaja lebih
dulu menulikan telinga kami.

II

Revolusi, Bang, adalah mimpi pagi hari
ketika
matahari kita pandang dengan mata
menyipit, dan

headline suratkabar belum sempat kau
eja. Kau tak tahu orang-orang
bilang; ini
zaman, bukan waktunya lagi mengumpulkan
kepala
seperti mengikat batang-batang lidi lalu
diberi nama.

Karena tak ada lagi yang gemetar oleh suara
yang keluar dari bawah kumis Lennin.

Kau lihat, rakyat memandangmu dari
televisi dengan muka yang kosong, menanti
giliran iklan yang mengundang gelak tawa.

III

Setelah revolusi tak ada lagi,
kita hidup dari mimpi-mimpi kecil, Bang.
Seperti mimpi bocah sebelum erangnya saat

terbangun karena ngompol.
mungkin kau menerawang masygul kini,
tapi bagaimana lagi hendak kau bangun cita-
citamu di atas reruntuh yang kerontang dan
tergadai

Kau mesti lihat, revolusi cuma ada di bawah
terik matahari. Sementara di sini, di tempat
yang teduh,

ia tinggal menempel pada t-shirt bergambar
Ghuevara.

  Ciputat, 09 Mei 2006

* Dari judul esai dan buku Goenawan
Mohamad.

1 Dimuat Syirah edisi September 2006

non sense!

Matahari kehabisan bahan bakar dan terbang rendah di

sana, mencari-cari tempat lapang buat
melandas, membuat bayang-bayang kita memanjang.

”Di sana, entah di mana atau
kapan, senar-senar pada gitar telah dibuat bergetar dengan serius, dan mereka
menyanyi buat kita yang kadang mendengar setengah sadar atau sambil tertidur.” Ucapmu
waktu itu

senja telah matang, gelap perlahan-lahan mengental waktu kau pergi ke sana, ke barat yang
entah.

***

Kau tahu, di sini malam tak sepadan dengan sepi
di sini cuma hujan yang bisa menahan bising, kala bulan tengah perawan.

(jarum-jarum pada jam dinding tak pernah benar-benar diam. Kadang merapat mesra bertiga-tiga, lalu menjauh
satu-persatu. Mungkin mereka punya jadwal buat cemburu.)

bulan menjadi tua
perlahan-lahan ketika aroma subuh menggelinjang, berlagak lugu di depan embun
yang jatuh lebih dulu.
Beberapa orang kena rayu dan memanggil-memanggil
lewat pengeras suara masjid.

“Baiklah, sampai lain kali, sudah waktunya tidur.”

   Ciputat, 17 Mei 2006

Matahari itu

Ketika senja undur berangsur-angsur,
matahari itu kedinginan dan menciut,

wajahnya pucat pasi. Kita di sini

bergumam, ”Itu rembulan” sambil

setengah memuji,

tanpa
tahu deritanya

 

  Ciputat, 18 Mei 2006

non sense! (2)

gelap mengangkangi kita dengan kelebatan
dingin yang mencekik, selepas pesta pora
hujan

adakah malam mengerti penderitaan kita yang digerayang sepi?
lalu mengapa ia meninggalkan kita di sini, di
garis tepi tanpa gravitasi?

  Ciputat, 03 Juni 2006

‘Lir’ 

Musim mengajak dingin,
menyemburat biru pada wajahmu.
Seperti perlahan kau menjelma
perawan
yang merah semu ketika
direnggut cemburu

  Ciputat,
04 Juni 2006

Ciput-art (2)

Di sini waktu merayap dengan sepi
tak akan kau dengar jerit
yang
menyusuri gang-gang,
memberitahukan saat
sembahyang telah datang.

tanda-tanda buat kita tergeletak di atas
meja, berupa pilihan ganda antara secangkir kopi,
segelas susu, atau sebaskom dingin es yang mulai mencair.

perhatikan dengan seksama,
pilihan terakhir mungkin benar semua.

                                                               Ciputat,
17 Juni 2006

Farewell (1) 

Tinggal angin masih setia pada detik yang pelan,
ketika kuhapus segaris firman yang tak pernah lagi
tereja.

Mungkinkah Ia tangisi kepergian

kita
yang fana

sementara tak sempat lagi diberikanNya sekerat roti,
atau segelas anggur untuk merayakan sore hari?

Maka kuseka jejakMu dari rintihan perih dan
letihku, kusamar guratMu dari basah dan bening
air mataku.

  Ciputat,
02 Juli 2006.

 

Farewell (2)

Saat itu juga terburu-buru
kau berangkat. Meski

aroma subuh masih belum
lekat, meski gelap

merahasiakan bayanganmu
erat-erat.

Pada setapak ini kau terakan
jejakmu untuk terakhir
kali, seperti kau bisikkan
selamat tinggal kepadaNya
sore tadi.

  Ciputat,
03 Juli 2006

 

Zarathustra

Yang kau
lihat barusan adalah aroma kematian
meruap
pada senja yang menjerit-jerit begini
Ketika
Zarathustra menggeletar-geletar bangga
melihat
darahNya berpendar-pendar di telapak tangannya.

Kau lihat
orang-orang itu tertawa dan menggeleng

tak
percaya. Tapi esok, mereka akan menghadiri

upacara
perkabungan akbar sambil diam-diam berbisik

dalam
hati, “Ia telah mati, Ia telah mati.”

Sepertinya
Zarathustra,
tapi bukankah
kita yang diam-diam bersiasat di belakangNya
lalu
menusukkan belati itu dalam-dalam? Tapi mengapa kita
mesti
menangis? Apa artinya menangis? Karena tak ada lagi
surga buat
air mata.

Ciputat, 12 Juli 2006

Sajak cinta hari ini 

Sepertinya telah habis
kata-katamu, hingga
air mata saja yang berbicara
kepadaku sejak tadi.

Di luar, siang jatuh
ragu-ragu. Sementara dari

jendela itu, debu seperti
menerbangkan harapan

ke arah yang tak kita tahu.

“Kalender akan menipis dan
segera habis, cintaku
tapi ingatan itu, bukankah ia
tercatat pada tiap lembarnya
yang kita lucuti setiap
hari.”

Tak usah kau tunggu senja,
dan langit akan mendadak

teduh, memandang pada kita
dengan raut yang sendu

Lalu semua begini, kau dan
aku pergi menjauh.

Ciputat, 01 Agustus
2006

Jejak persetubuhan

Di ranjang itu tubuhmu adalah
api unggun yang

lelehkan beku birahi

ketika dengusmu menuntun tonggak
purbaku yang

berangsur meninggi

Di ranjang itu rinduku
adalah kerontang kayu yang

menjaga unggunan api

ketika cengkramanmu melukai
syahadatku

berkali-kali

 Ciputat,
19 Agustus 2006

Kegagalan meditasi
            -dua potongan waktu-

I

Setelah terputus percakapan di telepon itu
kata-kata muntah berpeluru-peluru. Seperti tak
kenal lelah, angin terus-menerus membisikkan
semacam mantra ke telingaku.

Lembar-lembar buku mestinya banyak
bercerita hal baru buatku, tapi senyap itu

terlalu ngotot untuk mendamprat apa saja

yang hendak mengeluarkan suara dan baris kata-kata.

Aku ingin segera menikmati tidur panjang
yang tak mengenal waktu, aku ingin mengonggokkan
tubuhku ke tepi garis mimpi yang mungkin sedikit kabur.

II

Selepas kunjungan Sofi yang kedua kali, kantuk segera
memamah kesadaranku bertubi-tubi. Speaker di meja itu
tengah membaca teks lagu pada komputer sambil meneriakkan
nyanyian dengan gamang dan ragu.

Ada batuk
yang kadang-kadang tertahan tak tentu
Seperti hendak menyembunyikan timbunan rasa jemu

Ada deretan
buku yang termangu-mangu pada tiap
ruang di rak itu. Tapi bangku-bangku telah diseret
ke sana-kemari, seperti percakapan itu yang tak juga
sampai di titik temu.

Aku ingin segera menjelajahi lanskap pada
lipatan-lipatan itu.

Aku ingin segera menulis puisi panjang yang
mengalir tanpa ragu-ragu

Tapi bangku-bangku dan percakapan tak juga
sampai pada titik temu!

Ciputat,
22 Agustus 2006
 

Siasat menyambut pagi

Lagu-lagu berdentam dinyanyikan lewat komputer. Aku ingin menghantam
telinga orang-orang yang lewat, biar mereka bisa ikut bergoyang, biar mereka
juga merasakan betapa pagi ini begitu meradang.

Lalu kulihat tembok-tembok itu, daun-daun di pohon itu, serta tanah yang
kupijak gemetar tak tentu. Tapi mereka, orang-orang itu, tetap saja berjalan
tenang seperti pagi-pagi yang lalu. Sedang matahari saja enggan keluar dari
rimbun semak karena bentakan-bentakan laguku.

Kubuka paksa rolling door itu sampai menjerit-jerit, biar suara
lagu bisa meluncur mulus pada tiap celah pintu dan retakan-retakan dinding di
tempat-tempat tertentu, tapi mereka, orang-orang itu, tetap saja sibuk di pasar
sambil membacakan mantra tawar-menawar. Atau di depan toko-toko sambil
menceritakan derita perut yang lapar.

Di sini tinggal aku dan suara lagu-lagu

Saling bersitegang penuh tanda seru

  Ciputat,
22 Agustus 2006

Eksistensialisme Sartre

February 7th, 2008 by ahmadmakki

Tuhan telah lepas
dan meninggalkan

sebentuk lubang dalam
diriku

(Jean-Paul Sartre)

 
Dekade 60-an abad lalu
praktis menjadi milik Sartre. Saat itu dunia dilanda demam yang membuat hampir
tiap orang mengenal namanya, dan berbondong-bondong mentahbiskan diri mengikuti
alur pikirannya. Mungkin inilah kali pertama filsafat menjadi sebuah gaya hidup
yang populer.


Filusuf Prancis ini sejak
kecil tenggelam di lembar demi lembar buku, mengenal nama-nama sebelum mengenal
dunia. Ia yang sejak remaja tak lagi mengenal Tuhan, menghambakan diri pada
kesusastraan, dan mendapat penghargaan Nobel susastra pada tahun 1964, namun
ditolaknya dengan alasan akan mengurangi kebebasannya, dan enggan diidentikkan
dengan kaum borjuis serta kapitalis. Pada sekitar periode itu pula ia menjelma
sebagai eksistensialis nomor wahid, dan juru bicara humanisme yang paling
depan. Pemikirannya membentangi tema-tema susastra, politik, kemanusiaan,
kebebasan, dan lainnya.

Masalah “Ada”

  “Eksistensi mendahului
esensi”, begitulah selalu filusuf-filusuf eksistensialis berkata, ”dan cara
manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda. Karenanya
masalah “Ada” merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi
eksistensialisme.

Bagi Sartre manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan
(mengobjekkan) yang lainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang
intensionalitas, yakni kesadaran manusia yang tidak pernah timbul dengan sendirinya,
namun selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu”. Baik kita ajukan contoh: Saat
ini saya menyadari tengah duduk dalam sebuah forum diskusi, bersama dengan
orang lain, serta benda-benda lain, sekaligus menyadari bahwa saya berbeda
dengan orang lain, dan juga bukan sekedar benda. Saya meniadakan (mengobjekkan
orang dan benda lain). Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre.

Untuk memperjelas masalah ini, filusuf bermata juling ini
menciptakan dua buah istilah; être-en-soi, dan être-pour-soi.
Dengan ini pula ia membedakan cara ber-Adanya manusia dengan cara beradanya
benda-benda.

Benda-benda hadir di dunia setelah ditentukan lebih dulu identitas
(esensi) nya, sifatnya être-en-soi.
Dengan
sifatnya yang seperti ini benda-benda tidak mempunyai potensi di luar konsepsi
awalnya. Sebuah komputer sebelum dirakit, telah dikonsepsikan sebagai alat
mempermudah pekerjaan manusia. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa
kesadaran, tak punya potensi untuk melampui keadaannya yang sekarang;
eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi.

Sementara manusia, dengan Ada yang bersifat être-pour-soi,
eksistensi yang mendahului esensi, selalu punya kapasitas untuk melampaui
dirinya saat ini, dan menyadari Ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita
identifikasi sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar
menjadi tidak relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri,
maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia
mati.

Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana
keberadaan benda-benda. Mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya,
manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda, karenanya mustahil
bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus.

Cara beradanya benda tak punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia.
Sementara manusia sebaliknya, karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain,
maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. Dari
konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap
ateismenya.

Ateisme
Sarte

 Sudah
kita bahas di atas tentang hubungan antara dua cara meng-Ada. Ada-nya benda,
tidak mempunyai kesadaran, tidak memiliki potensi, dan tak ada hubungannya
dengan Ada manusia yang dihayati lewat kesadaran, dan dengan cara meniadakan,
atau menjadikan yang lain sebagai benda.

Dalam konsepsi agama, Adam (manusia) diciptakan Tuhan dengan
mengemban tugas tertentu. Dalam bahasa Sartre sebelum ia bereksistensi, ia
lebih dulu direncanakan esensinya. Tapi pada kenyataannya, pola esensi yang
dimiliki manusia adalah yang sifatnya penuh dengan potensi. Ia tak pernah bisa
didefinisikan esensinya hingga kematiannya. Selain itu, karakteristik dasar
dari kesadaran manusia adalah keterarahan kepada sesuatu (intensionalitas),
sekaligus egois. Kontradiktif dengan konsepsi Tuhan sebagai penentu esensi
manusia, atau dengan kata lain membuat manusia menjadi benda.

Sebelum Sartre, dunia juga mengenal Friedrich Nietzsche, sang
nihilis dari Prussia
yang kondang dengan frasanya; “Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben
ihn getotet
.” Bedanya, jika
Nietzsche mengumumkan kematian Tuhan dengan tiba-tiba, maka Sartre melakukannya
dengan lebih dulu menunjukkan kerancuan logika mengenai keberadaan Tuhan.

Kebebasan manusia

Pertanyaannya, eksistensialisme adalah tradisi filsafat
antropologis, yang memusatkan diri pada pertanyaan dan pernyataan tentang
manusia.
Lalu kenapa dua orang ini perlu
repot-repot untuk membunuh Tuhan?

Nietzsche
dan Sartre punya jawaban yang hampir mirip; jika Tuhan telah mati, segala
nilai-nilai menjadi absurd; tak ada artinya. Karena telah kehilangan
landasannya yang suci. Maka manusia bebas untuk berkehendak; merdeka!

Kebebasan
bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Kebebasan bukanlah rahmat bagi
manusia, kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan
yang lain, tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Dengan modus
keberadaannya yang bersifat être-pour-soi, manusia bebas untuk
mewujudkan apa yang diinginkannya.

Namun
kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak
untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh, namun di sisi lain ia membuat
kita merasakan kegelisahan. Karena itu filusuf yang juga aktivis kemanusiaan
ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif; “manusia dikutuk
dengan kebebasannya!”

Perasaan
gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Kegelisahan ini timbul
dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan, dan ia
sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dalam merealisasikan kehendak
dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya, karena nilai-nilai
ditentukan oleh dirinya sendiri.

Sebuah
alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan
ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan
terjal. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas, karena membayangkan apa
yang akan terjadi. Semuanya tergantung pada diri sendiri, apakah akan terjun,
atau mundur untuk menyelamatkan diri. Tak ada orang yang menghalangi untuk
terjun, segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Masa
depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya.

Orang lain adalah neraka bagi diri sendiri

Satu tema
yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi
antar manusia.
Karena
kontroversinya, tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para
kritikusnya.

 ”Dosa
asal
saya” kata Sartre, ”adalah
adanya orang lain”. Demikian kira- menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal
ini. Bagi filusuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini, hubungan antara aku
dengan orang lain, senantiasa berdasarkan konflik. Untuk membahas masalah ini
kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk
menggambarkan modus ber-Ada; être-en-soi, dan être-pour-soi,
karena dari sini muasalnya asumsi Sartre.

Mengingat doktrin tersebut, hakikat kesadaran manusia adalah
intensionalitas, yakni kesadaran terhadap sesuatu, sekaligus mengobjekkan
segala sesuatu.

Sekarang bayangkan jika “Aku”, bertemu dengan “Aku-Aku” yang lain,
kesadaran yang menegasi, bertemu dengan jenis yang sama.

Dalam hal ini Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus
dan terkenal; saya sedang mengintip pada lubang kunci, ketika tiba-tiba
mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. Ketika
tengah mengintip, apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya,
orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek, dan sayalah subjeknya.
Sementara, ketika seseorang memergoki saya, mendadak sayalah yang menjadi objek
dalam kesadarannya. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip, mau
tahu urusan orang, dll).

Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai
adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. “Aku berpura-pura
menjadi objek cinta pacarku, dan menyerahkan diri sepenuhnya. Padahal,
sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya.”

Ada juga kemungkinan lain, misalnya ketika si A, B, dan C saling
berselisih. Bisa jadi si A, akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara,
dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. Begitulah filusuf ini menjelaskan
bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk.

Amerika dan Totalitarianisme Baru

February 6th, 2008 by ahmadmakki

Kemarin siang (07/02/08) aku terbangun dan mendapati dua sms menunggu. Salah satunya dari abang iparku Akhmad Sahal yang bertulis: Makki, baca tulisanku dan GM. (Goenawan Mohammad -pen) di Bentara (rubrik Kompas -pen) hari ini ya.

Setelah kubaca (sayang aku lupa judul artikelnya) aku merasa apa yang ditulis abangku begitu penting, karena usahanya dalam melacak akar dari agresivitas Amerik pasca tragedi 11 September, memberikan sebuah pemahaman baru kepadaku tentang apa yang selama ini kupikirkan.

Pasca tragedi 11 September, Amerika (sebagai sebuah sistem pemerintahan) dengan langkah agresifnya hadir di mataku sebagai sebuah negara besar yang kuper dan egois. Dan tentu saja membuat geram. Namun itu tetaplah sebuah penilaian moralistik yang jika dibawa ke ranah diskursus menjadi sebuah kategori yang sangat relatif.

Tulisan Sahal yang menurutku sangat mencerahkanku itu menerangkan tentang perdebatan antara kaum neo konservatif versus kalum liberal Amerika, dalam cara memandang dirinya sendiri (baca: Amerika), dan menjadi dasar bagi Bush dalam mengambil kebijakan negara.
                                                        ***
Dalam konteks kebudayaan, Faham-faham seperti Fasisme, Naziisme, Marxisme, dan faham-faham totaliter lain, yang berusaha menyatukan dan memaksa manusia untuk suatu tujuan besar, pernah menjadi momok yang mencoreng wajah Eropa selama kurun perang dunia I dan II, dan beberapa saat seudahnya. Eropa yang dianggap sebagai tempat subur bagi percakapan ide-ide kemanusiaan seperti HAM, demokrasi, humanisme, liberalisme dll, terancam dicaplok oleh kekuatan-kekuatan besar yang berlandaskan faham-faham totaliter yang tentu saja berdiri secara diametral dengan ide-ide humanisme.

Dalam kondisi yang rawan inilah Amerika muncul sebagai sebuah ruang politik dan publik yang relatif aman dari ancaman ide-ide totaliter, dan dianggap semacam "tanah perjanjian" baru.  Dengan begitu Amerika mendapatkan legalitas atas superioritasnya dalam hal diskursus kemanusiaan.

Kehidupan politik Amerika yang secara tradisional terbelah menjadi dua, yakni kaum liberal dan kaum konservatif (dan penerusnya, neo konservatif), memandang superioritas ini dengan dua sisi yang berbeda. Kaum konservatif memandang bahwa dengan superioritas ini, Amerika mendapatkan landasan moral untuk menjadi juru selamat dunia dengan mengimpor ide-ide tentang kemanusiaan dan demokrasi kepada negara-negara lain. Dengan begitu Amerika berdiri di atas prinsip-prinsip besar tersebut dan berhak untuk menjadi mentor bagi negara-negara lain. Jika perlu memakai cara-cara represif seperti jalur militer.

Sementara kaum liberal memandangnya secara berbeda. Dengan posisi seperti ini Amerika mestinya menahan diri untuk lebih banyak ikut campur dalam urusan negara lain, karena tindakan yang terlalu jauh justru bisa membuat Amerika melanggar garis batas dari demokrasi.

Dalam konteks ini, Bush sebagai anak kandung dari ide neo konservatisme memandang bahwa penting bagi Amerika untuk lebih pro-aktif dalam menjalankan usaha profetik; mendemokrasikan dunia. Terutama selepas tragedi 11 September yang bisa berarti dua hal: pertama, munculnya kekuatan totalitarianisme baru, yakni Islam garis keras yang mencoba menyeragamkan dunia dengan jalan kekerasan, kedua, alih-alih menjadi sebuah tragedi, 11 September justru menadi semacam inaugurasi bagi superioritas Amerika, dan melegalkan berbagai macam tindakannya, termasuk kekerasan, dalam upaya penegakkan demokrasi. Kondisi Seperti inilah yang membuat pemerintah Amerika merasa punya hak untuk melakukan invasi ke Irak dengan dalih pemberantasan terorisme dan penegakkan demokrasi.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu, tindakan Amerika ini ternyata menemukan kesulitan dalam hal pembuktian rasionalisasinya. Invasi ke Irak yang bertujuan untuk menangkap Osama dan membongkar keberadaan senjata pemusnah massal ternyata hanya menjadi ajang pelanggaran HAM. Dengan begitu, sadar atau tidak, Amerika telah membenarkan kekhawatiran yang disuarakan oleh kaum liberal sebagaimana ditulis di atas. 

Kondisi ini membuat kita kesulitan untuk membedakan tindakan agresif Amerika dengan tindakan militeristik negara-negara yang totaliter. Dalih demokratisasi, penegakkan HAM  dan pembebasan kemanusiaan seperti menjadi suara kosong manakal berhadapan dengan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa justru Amerika telah berbuat sebaliknya kepada negara lain.

Keadaan ini tentulah sangat mengkhawatirkan, mengingat posisi Amerika sebagai satu-satunya negara super power, dan saat ini tengah kehilangan kesadaran akan identitasnya sebagai negara yang mengelu-elukan demokrasi. Amerika sebagai sebuah negara yang membanggakan diri sebagai proyek percontohan demokrasi kini berada di titik nadir jurang totalitarianisme. Dengan kekuatan Amerika yang tak tertandingi di berbagai lini, ia juga memiliki kemampuan untuk memanipulasi fakta dan ide tentang apa yang telah dilakukannya.

Karena hal itu, pemilu Amerika kali ini begitu penting bagi dinamika kehidupan masyarakat dunia, terutama melihat opini rakyat Amerika yang telah kehilangan kepercayaan terhadap argumen-argumen Bush, serta kelompok-kelompok yang mendukungnya.

Semoga hari-hari ini adalah senjakala bagi Bush.

Psikoanalisa dan Kesalahpahaman Dosen UIN

February 6th, 2008 by ahmadmakki

Dalam konteks pemikiran kontemporer psikologi, terutama psikologi timur, Fakultas Psikologi UIN Jakarta cukup memainkan peranan. Hal ini dikarenakan aktifnya imstitusi ini dalam diskusi aliran baru dalam psikologi, yakni Psikologi Islam. Aktivitas ini ditandai oleh munculnya nama Abdul Mudjib, yang juga dosen UIN, dalam kancah diskusi psikologi islam.

Dalam uraiannya tentang mendesaknya kebutuhan terhadap didirikannya aliran psikologi islam, Mudjib, dan dosen-dosen lainnya biasanya memulai dari uraian singkat tentang aliran psikologi sebelumnya, seperti psikoanalisa, behaviorisme, dan humanisme. Setelah itu mereka mengritik dan menunjukkan kenapa aliran-aliran tersebut tak lagi komprehensif.

Dengan kondisi yang sehat dan jernih, diskusi seperti ini penting, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah bermula dari diskusi-diskusi seperti ini. Namun demikian, seperti yang dikaakan di awal paragraf, kondisinya mesti sehat dan jernih.

Berkaitan dengan hal itu, saya melihat beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam diskusi tersebut.

Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah rangkaian kritik yang saling bertautan hingga membangun tradisi yang kokoh dari pengetahuan. Sebuah kritik terhadap asumsi sebelumnya mengandaikan penguasaan yang mantap terhadap seluk-beluk dari apa yang dikritiknya. Jika dikaitkan tersebut, permasalahan yang timbul dalam konteks diskusi di fakultas psikologi UIN Jakarta adalah minimnya pemahaman terhadap aliran-aliran yang dikritiknya.

Permasalahan seperti disebut di atas tergambar dalam kampanye psikologi islam di kelas-kelas yang mengatakan bahwa psikoanalisa yang digagas oleh Sigmund Freud adalah aliran yang mengatakan bahwa secara ontologis manusia dilahirkan dalam kondisi psikis yang jahat. Pernyataan ini bersifat evaluatif dan moralistik, karena pernyataan ini meletakkan teori psikoanalisa dalam kategori molatitas, dan kita tak bisa mengklarifikasi asumsi ini dari tulisan Freud langsung. Sejauh penelusuran saya, pernyataan ini direferensikan dari karya Calvin S. Hall dkk., yang telah diindonesiakan; "Teori-teori Psikodinamika" yang diterbitkan oleh Kanuisius.

Secara epistemologis, pernyataan tersebut akan terlihat problematis, mengingat Freud selama ini tak pernah berbicara dalam kerangka moralitas. Freud selama ini kita kenal sebagai dokter ahli saraf yang kemudian membangun sebuah kerangka kokoh dari teori yang bertujuan untuk menjelaskan dinamika kepribadian manusia.

Asumsiku, penilaian moralitas seperti di atas berangkat dari klasifikasi Freud terhadap insting manusia yang dibagi menjadi dua, yakni eros dan thanatos. Eros adalah insting hidup yang mewakili keinginan manusia untuk memenuhi kepuasannya. Freud sendiri menyatakan bahwa karakteristik eros didominasi oleh aspek libidinal yang mendorong manusia untuk memenuhi keinginan seksual. Sementara thanatos adalah insting kematian yang mendorong manusia kepada agresi dan kehancuran.

Kedua kategori ini memang sangat mudah untuk disalahpahami, terutama jika dievaluasi secara moralistik. Aspek libidinal yang ditekankan Freud dalam psikis manusia memang pernah mengndang kecaman dari para ahli yang menganggap Freud sebagai pan-seksualis. hal ini bisa kita maklumi mengingat seks adalah salah satu kategori yang masih sangat tabu, terutama di negeri kita.

Sementara thanatos, melihat sifatnya yang agresif dan destruktif, kita dengan mudah akan menduga bahwa insting ini bersifat jahat dan mesti direpresi seketat mungkin. Namun K. Bertens pernah menyanggah anggapan semacam ini. Menurutnya, dengan memahami tulisan Freud secara komprehensif kita akan mengerti bahwa kedua macam insting ini dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Secara konkrit, perilaku manusia adalah percampuran dari dua senyawa ini dan tak mungkin hanya dimotivasi hanya oleh salah satu dari keduanya.

Dalam hal libidinal, Freud memahami hal ini dengan artian yang sangat luas, berbeda dengan pandangan awam yang mengartikan libido sebagai aktivitas kontak seksual an sich.

Jika ditilik dari teori Freud, keberlangsungan hidup kita cuma dimungkinkan dengan terintegrasinya libiso dalam sistem psikis manusia. Seorang bayi, misalnya, ia tidak mungkin menyusu jika tidak ada integrasi antar dorongan lapar dengan dorongan libidinal. Selain itu, aktivitas seksual yang dimaksudkan Freud tidak terpusat pada daerah kelamin semata, dan jauh lebih kompleks (Michel Foucault, dalam -kalau tak salah- "History of Sexuality" bahkan menunjukkan bahwa asumsi masyarakat modern yang mereduksikan aktivitas seksual hanya pada wilayah kelamin adalah konstruksi yang dibangun oleh jejaring kuasa kapitalisme).

Pada akhirnya Freud menekankan bahwa dikotomi psikologis antara sehat dan sakit sebenarnya tidak memiliki garis batas yang jelas. pada dasarnya setiap orang punya permasalahan psikologis, dan yang membedakan adalah kadarnya. Dengan pemahaman seperti ini Freud juga menegaskan bahwa yang dipentingkan untuk membentuk sebuah kondisi kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara instansi-instansi kejiwaan -id, ego, superego-.

Tiga instansi kepribadian yang diterangkan oleh Freud pun jika diterawang secara metodologis akan menemui kesimpulan bahwa ketiganya diperlukan dalam kehidupan, dan ketiganya sama sekali tidak negatif secara ontologis. Negativitas dalam kepribadian hanya mungkin diakibatkan oleh distorsi-distorsi terhadap salah satu atau keseluruhan dari ketiganya.

Uraian singkat tentang sekelumit pemikiran Freud di atas akan membawa kesimpulan kita pada prinsip kejiwaan manusia dalam kacamata Frued yang menekankan psinsip keseimbangan kepribadian, dan bertujuan untuk membuang emisi dalam ketidaksadaran manusia yang merugikan kepribadian manusia.

Dengan tujuan positif seperti itu, akan sulit bagi kita untuk terus menerus memegang pernyataan di atas (secara ontologis manusia dilahirkan dalam kondisi psikis yang jahat), karena kita tak bisa mengidentifikasi satu pun kriteria moralitas dalam pemikiran Freud.

Semoga hal ini sungguh-sunguh disadari dalam forum-forum diskusi psikologi islam selanjutnya.

MUI, oh, MUI

February 5th, 2008 by ahmadmakki

Akhir-akhir ini fenomena kekerasan terhadap Ahmadiah merebak di mana-mana. Orang-orang berlomba menghancurkan tempat ibadah yang beridentitaskan Ahmadiah. Semua tindakan agresi yang terjadi terhadap Ahmadiah tak ada bedanya dengan perbuatan kriminal. Yang membedakannya cuma sepucuk keputusan MUI tentang sesatnya Ahmadiah.

Aku bertanya-tanya, "jika memang MUI lembaga yang memegang kebenaran, mengapa kekerasan seperti ini yang berlandaskan keputusan mereka masih saja dibiarkan terjadi?

MUI adalah lembaga yang digagas atas kesadaran tentang keberagaman budaya di Indonesia yang tentu saja berpengaruh terhadap keragaman faham agama kita. Dan jika ditilik dari visi dan misinya MUI bertugas untuk mendudukkan keragaman itu dalam sebuah diskusi yang ramah dan toleran, yang dilandasi saling pengertian (Tempo, 2008).

Tapi sekali lagi, mengapa kekerasan yang membawa-bawa fatwa MUI masih juga dibiarkan terjadi?

MUI, kita tahu, terdiri atas ahli-ahli yang pengetahuan agamanya di
luar kepala. Dibanding kita, orang-orang biasa, tentu mereka lebih tahu
jika kekerasan dalam agama tak pernah dapat kata setuju.

Selama ini kita melihat gerak dari lembaga ini terkesan lamban dan kekurangan inisiatif. Praktis selain fatwanya tentang halal-haram, serta sesat atau tidaknya suatu aliran, kita tidak melihat peran mereka yang signifikan, terutama melihat kondisi bangsa yang karut-marut.

Berkaca pada zaman penjajahan, pesantren-pesantren yang digawangi oleh para ulama sukses menggerakkan perlawanan yang massif terhadap penjajahan. Ketika itu dalam pendidikan pesantren yang ditekankan adalah nilai-nilai sosial dalam Islam (Ahmad Baso, 2006). Permasalahan ritual seperti shalat, zakat atau yang lainnya adalah hal yang sudah diketahui secara umum dan dengan mudah dan singkat bisa diajarkan. Makanya para ulama pesantren lebih tertarik mengajarkan kepada santrinya nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, serta kesamaan manusia
di mata Tuhan. Secara praktis mereka akan mendidik santrinya dengan kesadaran bahwa merampas hak orang lain itu haram hukumnya, dan dalam Islam kita diwajibkan untuk mempertahankan hak kita. Karenanya bangsa asing yang datang ke Indonesia untuk menguasainya harus dilawan!

Jika begitu, kenapa kumpulan ulama dan kiai di tubuh MUI saat ini tak bisa melakukan hal yang sama, padahal bangsa kita masih bergelut di permasalahan itu-itu juga?

Korupsi adalah perampasan hak terhadap orang lain, perusakan tempat ibadah adalah perbuatan yang dibenci Allah, menista agama lain adalah perilaku yang tidak pernah diajarkan dalam Islam, lalu kenapa berhadapan dengan hal-hal tersebut MUI diam saja?

Fenomena Ahmadiah dan Kejanggalan Negeri Kita

February 5th, 2008 by ahmadmakki

Orang-orang memasang muka ganas, senjata-senjata dihunus, rumah ibadah roboh dan terbakar. Plang-plang yang bertuliskan Ahmadiah dirobohkan dengan perasaan bercampur antara marah dan bangga.

Kira-kira gambaran demikian yang sering kita lihat dari media massa di negeri kita akhir-akhir ini. Ini permasalahan agresi dan perusakan faslilitas ibadah, ini permasalahan penghilangan kenyamanan terhadap peribadatan, tapi dengan berbekal sepucuk keputusan dari MUI semua menjadi sah dan diberi aplaus.

Kita tahu, Ahmadiah, sebagai satu sub-faham keagamaan telah lama bercokol di negeri kita, paling tidak pada dekade 1980-an aliran ini telah dikenal di Indonesia. Tapi janggalnya, jika mereka memang salah, mengapa baru sekarang orang-orang marah? Padahal ketetapan MUI tentang sesatnya faham ini telah turun sejak dekade 1980-an (Tempo, 2008).

Bangsa kita memang terlalu sering mengalami kejanggalan hingga menganggap hal janggal menjadi biasa.

Suatu saat, pasca peristiwa 11 September di Amerika, negeri Abang Sam ini menganjurkan Negara kita untuk memberlakukan peraturan pencegahan terhadap tindak terorisme. Orang-orang berdebat panjang, tiba-tiba bom meledak. Di saat yang lain sekelompok orang turun ke jalan. Mereka merazia dan membakar buku-buku yang dianggap menyebar faham komunis. Anehnya, buku karang Franz-Magnis Suseno yang ingin menjelaskan beda antara komunisme dengan marxisme, dan justru mengritik keduanya, ikutan dibakar. Ketika ditanya wartawan, perwakilan mereka menjawab "buku ini mengajarkan kapitalisme" (?).

Di lain kesempatan, Akbar Tandjung terlibat Buloggate, semua kamera televisi dan koran menyorot kepadanya, orang-orang ramai mebicarakannya. Tiba-tiba Theis Eluways -seorang tokoh perjuangan di salah satu daerah- dibunuh. Mendadak semua orang berpaling pada kasus pembunuhan ini, dan kasus Akbar Tandjung "melorot ratingnya". Makanya ketika ia divonis dengan hukuman ringan, apalagi jika dibandingkan dengan nominal kesalahannya, orang-orang sudah melupakannya.

Bangsa kita memang terlalu sering mengalami kejanggalan hingga menganggap hal janggal menjadi biasa.

Makanya, ketika kejanggalan agresi terhadap Ahmadiah yang terjadi berbarengan dengan perdebatan status hukum Alm. Soeharto dan ahli warisnya, serta pengusutan terhadap penggelapan dana BI, wajar jika orang-orang lupa dan menganggap biasa. Mereka lebih disibukkan oleh aktivitas memasang muka garang dan merobohkan tempat ibadah orang.

Chairil Anwar; Puisi, Revolusi, Lalu Hidup Seribu Tahun Lagi

January 30th, 2008 by ahmadmakki

Mengapa
Chairil?

Kita tahu dia pencuri, plagiat, bohemian, penerjemah, dan tentu saja,
penyair besar.

Ya,
tapi mengapa Chairil?

Karena
berbicara sastra 
tanpa mengikutsertakan penyair ini, adalah kesalahan yang tak terampuni. Sama
halnya menunaikan sembahyang tanpa melakukan takbir. Terutama karena dia
melakukan revolusi dalam dunia kesusastraan Indonesia  -terlebih puisi.

Sutan
Takdir Alisyahbana (Takdir-pen) jauh-jauh hari sebelum Chairil, telah
mendeklarasikan sebuah proyek pembaharuan dalam kebudayaan
Indonesia
Jadilah majalah Poedjangga Baroe yang didirikannya menjadi semacam
Alkitab yang mengabarkan misi profetiknya; modernisasi kebudayaan
Indonesia yang mesti
berkaca dari cerlangnya rasionalitas dunia barat.

Takdir
pun bersiasat, Takdir pun menyusun filsafat. Tapi orang menjadi maklum, bahwa ia
tak kunjung berhasil menuangkan renungannya dalam pencapaian estetika susastra
yang dianggapnya sebagai garda depan kebudayaan.

Tiba
giliran Chairil yang tahu-tahu dengan lantang berucap “Aku”, ketika penyair
sebelum dan semasanya masih sibuk dengan ungkapan “beta.” Maka terselamatkanlah
cita-cita modernisasi Poedjangga Baru yang hampir-hampir menjadi “macan
kertas” belaka.

Chairil,
betapapun –kalau memang demikian- plagiatnya ia, tapi dibawakannya kepada kita
angin baru dalam dunia persajakan
Indonesia. Baik dalam soal bentuk,
maupun tema. Pola-pola persajakan melayu lama yang banyak terpaku pada rima,
dibabatnya tiba-tiba.

Bandingkan,
misalnya, dua petikan sajak ini:

 Rang…
rang… rangkup

Rang…
rang… rangkup

Batu
belah batu bertangkup

Ngeri
berbunyi berganda kali

 (Sajak Batu
Belah
)

 

Kalau
sampai waktuku

‘Ku mau tak
seorang ‘
kan
merayu

Tidak juga kau

 Tak
perlu sedu sedan itu

(Sajak Aku)

Pada
sajak Batu Belah yang ditulis Amir Hamzah, kita lihat struktur pantun
dengan kuatnya permainan bunyi yang menjadi ciri esensial dalam sajak-sajak
yang berakar pada tradisi melayu. Sementara pada bait di bawahnya yang kupetik
dari sajak Aku, karya Chairil, meski ada kesamaan huruf dari tiap
akhir barisnya, namun sama sekali tidak mengasosiasikan persahutan bunyi
seperti pada sajak Amir Hamzah. Pada hematku, “kesemena-menaan” bentuk ini juga
yang memungkinkannya untuk mengeksplorasi tema baru dalam tradisi puisi
Indonesia.

Chairil
yang lebih banyak menengok kepada tradisi barat, dari pengembaraan spiritualnya,
memberi kita oleh-oleh tema yang cukup gandrung di dataran eropa ketika itu;
eksistensialisme.

Kecuali
tentang keindahan alam, sebagaimana penyair sebelumnya, praktis ia masih
membicarakan soal-soal seperti cinta, religiusitas, persahabatan dan
sebagainya. Tapi di tangan penyair yang dianggap sebagai pelopor angkatan 45
ini, hal-hal tersebut seolah hanya menjadi medium untuk menegaskan prinsip
individualitasnya yang berakar pada filsafat eksistensialisme.

Tengok
saja ungkapan-ungkapan dalam sajak cintanya seperti Penerimaan; Kalau
kau mau kuterima kau kembali/Untukku sendiri tapi/Sedang dengan cermin aku
enggan berbagi.
Atau bahkan kepada Tuhan, ia sempat bilang; Ini
ruang/Gelanggang kami berperang/Binasa-membinasa/Satu menista lain gila
.

Kita
dapat mengendus aroma ke-Aku-an yang tajam pada frasa-frasa semacam itu yang
memang menjadi ciri khasnya. Belum lagi sajak Aku yang menjadi semacam manifesto
bagi pendiriannya.

***

Chairil
memang anak jamannya, meski lahir di tempat yang keliru.

Bayangkan,
ketika
Indonesia
masih gonjang-ganjing kedaulatannya -maka wajar kalau paham nasionalisme
menjadi solusi praktis ketika itu, ia mendeklarasikan sikapnya sebagai binatang
jalang yang mengambil jarak-diri dari kumpulannya. Ke
sana ke mari ia bicara tentang universalisme,
dan terus terang menolak untuk “melap-lap hasil kebudayaan lama sampai
berkilat untuk dibanggakan
.” Cukup beralasan jika di kemudian hari, H.B
Jassin, rekannya sendiri, mencurigainya sebagai corong kolonialis untuk
mematahkan semangat nasionalisme ketika itu.
 

Tapi
memang, meski anak jamannya, Chairil lahir di tempat yang keliru.

Dan
karena itulah apa yang dilakukannya dalam kesusastraan kita, diyakini sebagai
revolusi. Sebab itu, secara implisit, Goenawan Mohamad pernah menyatakan,
berbeda dengan puisi ala melayu lama, dalam puisi bukan-syair (tentulah yang
ditunjuk di sini adalah tradisi puisi yang dimulai oleh Chairil Anwar-pen),
kita tak bisa lagi membedakan antara “bentuk” dengan “isi”.

Artinya,
coba bayangkan, bagaimana kita menyampaikan gagasan dalam sajak Aku,
dengan teknik pantun yang masih membekas pada sajak-sajak Sitor Situmorang,
misalnya?

Pada gaya bahasa
Chairil yang lugas dan impresif itulah kita menemukan kepaduan dari semangat
yang hendak diangkatnya. Dalam prosa, misalnya, aku biasa menyandingkannya
dengan
gaya
Budi Darma yang “serampangan”, dan justru inheren dengan sisi kelam serta
irasionalitas manusia yang hendak diangkat. Karena itulah, dalam tradisi
persajakan modern ala Chairil, teknik berbahasa menjadi unsur yang krusial bagi
pengungkapan kesan-kesan pribadi ke dalam teks yang hendak dibaca khalayak.

Dan
sekali lagi, Chairil memang anak jamannya yang tengah berpesta pora dengan
keagungan rasionalismenya. Dan dengan kesadaran itulah ia berkarya.

Bagi
penyair yang meninggal di usia muda ini, inspirasi bukanlah wahyu yang jatuh
dari langit. Ia tak pernah mempercayai seorang pengarang yang tengah dimabuk
inspirasi dapat melahirkan karya bermutu tinggi. Baginya, inspirasi adalah
sesuatu yang mesti ditimbang, diperiksa setiap sudutnya, atau bahkan kadang
harus dicampakkan jika tak bisa melewati seleksi rasio. Kata-kata mesti dipahat
dan diamplas sedemikian rupa, hingga mencapai bentuk pengucapan yang puncak dan
memonumen. Oleh karenanya ia bertekad menelusuri bahasa hingga ke akar-akarnya.

***

Tahun
1949. Chairil menulis “hidup hanya menunda kekalahan/…/sebelum pada akhirnya
kita menyerah
.” Tak lama kemudian ia dijemput ajal, meski beberapa tahun
sebelumnya, ia terlanjur bertekad untuk “hidup seribu tahun lagi.

Maka
membaca Chairil, paling tidak bagiku, adalah menikmati ketegangan antara dua
kutub ekstrem tersebut. Pergulatan kehendak melawan takdir, pergumulan
kemungkinan melawan batas-batas manusia. Dan tepat pada titik itulah Chairil
mendedahkan eksistensialismenya.

Dan
orang boleh bilang ia tak konsisten, jika pada suatu waktu ia “Binasa-membinasa
dengan Tuhan, namun kemudian masih sempat bilang “Dalam termangu aku masih
menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/Mengingat Kau penuh seluruh
.”

Atau
bisa saja kita heran, di tengah penegasan individualitasnya sebagai binatang
jalang
/Dari kumpulannya terbuang, ia masih sempat bikin Persetujuan
Dengan Bung Karno
serta sajak Krawang-Bekasi yang tak pelak
dipengaruhi suasana
Indonesia
kala itu.

Tapi
memang demikianlah Chairil. Seperti Sartre, baginya eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang selesai sekali didefinisikan. Hingga batas kematian, kita masih
mungkin saja mengeksploitasi segala kemungkinan.

Maka
sekali lagi, orang boleh saja bilang ia pencuri, plagiat, bohemian, penerjemah,
dan tentu saja, penyair besar. Tapi lagi-lagi kita terlanjur percaya, ia pernah
bilang; “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Soeharto

January 30th, 2008 by ahmadmakki

Aku terheran-heran dengan bangsaku sendiri akhir-akhir ini. Soeharto sakit (akhirnya wafat) orang-orang berdebat, orang-orang adu pendapat. Sementara media massa berlomba-lomba membaptis (kembali) Soeharto sebagai Bapak Pembangunan.

Tak ada yang salah, memang. Tak ada yang salah, kecuali pemberitaan yang tidak seimbang antara liputan atas jasa Soeharto dengan liputan atas kesalahan-kesalahan yang mengakhiri kekuasaannya selama 32 tahun.

Orang-orang berebut ingin memaafkannya, tapi apa yang mesti dimaafkan? Faktanya dia tak pernah menempuh proses peradilan yang sehat sehingga dibuktikan bersalah. meski begitu bukti-bukti telah terlanjur mengarah kepadanya.

Sejak Soeharto sakit, koran-koran dan stasiun-stasiun televisi berebut memajang mukanya dan menceritakan sejarah baiknya. Makanya kita kemudian lupa bahwa di berbagai titik negeri ini, banyak rakyat yang dikepung bencana alam, kekurangan bermacam kebutuhan, kehilangan harapan sehingga tak mampu lagi meminta tolong. Padahal kondisi mereka lebih miris ketimbang Soeharto.
                                ***
Kita jangan berlagak suci dengan mengajak orang lain untuk memaafkan Soeharto, tapi bercerminlah pada rakyat kecil yang terlantar lihatlah jelaga di muka dan hati kita, lalu meminta maaflah pada ibu pertiwi, Indonesia.